Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari April, 2011

Diantara CINTA yang diabadikan

Z akaria ‘alaihis salam gelisah di tahun-tahun terakhir hidupnya. Ia mulai merasakan tulang-tulangnya mulai melemah dan rapuh. Rambutnya yang putih mengkilat laksana perak itu seperti memberinya isyarat bahwa waktu kembalinya telah semakin dekat. Setiap kali ia mengamati orang-orang didekatnya, istrinya yang sangat dicintainya, keluarga kerabatnya yang sangat dikasihinya, pikiran dan hatinya terusik.Tulangnya yang rapuh dan rambutnya yang putih itu, seakan berbisik :” Wahai Zakaria, mereka semua akan kau tinggalkan, seperti halnya kau juga akan meninggalkan dunia ini tidak lama lagi. Betapapun besar cinta kasih sayangmu pada mereka, betapa besar keinginanmu untuk tetap bisa bersama mereka, tidak akan menghalangi apa yang telah menjadi ketetapan Allah swt”. Bisikan itu melipat-gandakan kecemasannya. Dalam perenungannya, bertubi-tubi pertanyaan muncul mengerubutinya. Kekasih dan kecintaannya membayang dipelupuk matanya yang basah berkunang-kunang. Pikirnya :”Adakah mere

Buah Agama

Lihatlah bagaimana ia berakhlak kepada Allah ... Sudahkah ia menundukkan hatinya, mengharap pertolongan-Nya, ikut apa mau-Nya (menjalani perintah dan menjauhi larangan-Nya)? Lihatlah bagaimana ia berakhlak terhadap dirinya sendiri? Apakah ia sudah menyayangi tubuhnya sendiri? Apakah ia sudah memakan makanan yg bergizi-sehat-halal, meminum minuman yang menyegarkan-menetralkan, beristirahat dengan cukup. Apakah ia sudah membaca Al-quran dan buku2 yg penuh hikmah dan motivasi? Apakah ia memiliki visi dan misi yang jelas dan mulia? Lihatlah bagaimana ia berakhlak kepada sesama manusia ... Sudahkah ia menghormati dan bersikap santun kepada kedua orang tuanya, mertuanya? Sudahkah ia sayang dan memberikan yg terbaik (sesuai dengan kemampuannya) kepada istri dan anaknya. Sudahkah ia beretos kerja tinggi, jujur, amanah, dapat dipercaya, cerdas, do the best? Sudahkah ia menghormati atasan, tidak meremehkan teman sejawatnya, dan memperhatikan nasib bawahannya? Lihatlah bagaimana ia berakhlak kepa

Kebahagiaan adalah DIRI KITA SENDIRI

Margaret istri John Maxwell, sedang menjadi pembicara di salah satu seminar tentang kebahagiaan. Seperti biasa, John Maxwell, sang suami, duduk mendengarkan di bangku paling depan. Di akhir sesi, setelah pengunjung bertepuk tangan, ada sesi tanya jawab. Seorang ibu mengacungkan tangan bertanya, "Mrs. Margaret, apakah suami Anda membuat Anda bahagia?" Gotcha ! Pertanyaan yang bagus! Seluruh ruangan terdiam. Margaret berpikir beberapa saat, kemudian mantab menjawab, "Tidak." Seluruh hadirin terkejut. "Tidak," tegasnya sekali lagi, "John Maxwell tidak bisa membuatku bahagia." Seisi ruangan serentak menoleh ke arah John Maxwell. Lucunya John Maxwell juga menoleh kebelakangan mencari-cari pintu keluar. Rasanya ingin cepat keluar. Malu, ooi! Kemudian Margaret berkata, "John Maxwell seorang suami yang sangat baik. Ia tidak pernah berjudi, mabuk-mabukan, atau selingkuh. Ia setia dan memenuhi semua kebutuhan saya, baik jasmani maupun roh

Mas Bento !

Salah satu pandangan yang keliru, yang sayangnya menjadi mindset sebagian orang di Indonesia adalah bahwa dengan kekayaan, mereka dapat meningkatkan harga diri dalam keluarga, kerabat, dan komunitas sosialnya. Kendaraan mewah, titel berderet, asesoris yang bermerk, rumah berharga milyaran menjadi simbol kesuksesan saat berkumpul dengan para kerabat dan teman-teman. Ada suatu cerita pendek yang kurang lebih mencerminkan pandangan masyarakat secara umum dan menjadi bahan renungan kita, terutama saya pribadi. Begini ceritanya, ketika lebaran tiba, seorang PNS (Pegawai Negeri Sipil) yang baru lima tahun bekerja di ibukota pulang ke kampungnya. Namun karena kesulitan transportasi sang PNS, sebut saja namanya mas Bento, baru tiba pada hari kedua Idul Fitri di kampungnya. Ketika sampai di halaman rumah orang tuanya, kebetulan sedang berlangsung acara “ open house ” di kalangan saudara satu buyut. Mas Bento masuk ke rumah diiringi pandangan “aneh” dari para kerabatnya. Kenapa me

Satu Maaf untuk Sejuta Sehat

Ingin hidup sehat, jangan berat hati memaafkan kesalahan orang lain. Penelitian menunjukkan, orang yang sulit memberi maaf lebih berisiko terkena serangan jantung dan penyakit berbahaya lainnya. Maaf ya. Dalam kondisi yang tidak mendukung, misalnya jalanan macet, cuaca yang panas, atau belum gajian, kemarahan orang lebih mudah tersulut. Hal-hal kecil bisa bikin kesal setengah mati bahkan sampai dendam berhari-hari. Marah atau kekesalan emosi yang melonjak tinggi dijamin nggak sehat buat tubuh. Jika seulas senyum kecil saja melibatkan kontraksi ratusan jaringan otot dan syaraf, apalagi marah yang jelas-jelas menggunakan ekstra energi. Tubuh kita pastinya lelah banget! Dilansir Findaticle, Senin (31/10/2005) Universitas Tennesse Amerika mengadakan penelitian tentang efek memaafkan dari sisi psikologis dan fisik. Objek penelitiannya adalah orang-orang yang pernah dikhianati oleh orang tua, teman, atau pacar. Mereka diminta bercerita tentang pengkhianatan yang pernah dialamin

Asyiknya Membaca !

“Memahami membaca untuk kesenangan, dari kacamata Cultural Studies , sebenarnya menempatkan membaca sebagai aktivitas yang tidak berbeda dengan aktivitas dan gaya hidup masyarakat urban yang lain, seperti menonton televisi, memilih selera genre musik, memilih mode pakaian, telepon genggam, dan berbagai simbol kehidupan masyarakat modern, bahkan postmodern. “Kegiatan membaca untuk kesenangan di kalangan remaja urban ini menarik untuk dipahami lebih mendalam karena memiliki kekhasan yang berbeda dengan aktivitas mengisi waktu luang yang lain. “Seperti dikatakan Wang dkk. (2006), membaca pada dasarnya adalah aktivitas yang populer dan terbuka bagi siapa saja, karena buku tersedia luas di toko buku, perpustakaan, atau meminjam ke teman dan orang lain. Membaca juga merupakan aktivitas individual. Berbeda dengan keputusan menonton televisi dalam keluarga, misalnya, yang acapkali ditentukan bersama; untuk kegiatan membaca seseorang bisa mengikuti preferensi pribadi dan merupaka

Boleh Saya Curhat?

SOBAT saya yang budiman. Bagaimana keadaan Anda hari ini? Semoga senantiasa selalu dalam bimbingan, hidayah dan petunjuk dari Allah swt. Mudah-mudahan kata-kata saya menyapa Anda dengan penuh kehangatan, sehinga menambah keindahan persaudaraan kita ini. SOBAT yang baik. Bulan lalu, saya menulis tentang cara keluar dari masalah hidup . Di sana saya menyam paikan tips mendapatkan solusi dari persoalan yang sedang menyapa saya. Tulisan ini hampir mirip-mirip konteksnya. Namun, yang berbeda adalah cara menemukan solusi, dari tantangan yang saya hadapi. Cara Menemukan Solusi Ide ini muncul saat saya sedang melakukan pengosongan perut di bilik inspirasi. ( Water Close ). Saya sebut bilik inspirasi, karena memang hampir beberapa ide briliant, datang tatkala proses pembuangan terjadi. Mungkin Anda juga mengalaminya kan? Di dukung juga oleh pengalaman saya melakukan terapi kepada klien-klien saya. Baik di klinik, chating dan via email. Ada juga diantaranya melalui curhat colongan

Berbahagia dengan Keluarga

Bagaimana Orang Beriman Berinteraksi dengan Anggota Keluarganya? Berikut sebuah nasehat dari Mawlana Syaikh Nazim Adil al Haqqani qs Dari Buku Liberating The Soul (Volume 1) Bismillahir Rohmaanir Rohim Siapapun yang percaya dengan Kemutlakan Sifat Allah swt, maka ia akan dicintai dalam masyarakat dan juga oleh keluarganya. Seorang mukmin atau orang yang beriman harus berada bersama keluarganya. Setidaknya dia bisa menjadi seperti seekor kucing anggora, dimana setiap anggota keluarga dan semua orang akan senang dengan seekor kucing anggora dan semua orang ingin membelainya. Tetapi saat ini kita hidup dalam jaman yang aneh. Jika seorang muslim berada diantara keluarganya, mereka membuat diri mereka seperti landak yang mudah menyakiti siapapun yang mendekatinya. Orang tidak ingin membelai landak, karena duri-durinya akan melukai. Bagaimana bisa kalian mengaku sebagai orang yang beriman tetapi berperilaku seperti seekor landak ketika bersama keluarga kalian. Hal itu bukanlah meru

Anak kepada orang tuanya

Nasehat lain dari Sultan Awliya Mawlana Syaikh Nazim Adil al Haqqani qs tentang Kewajiban Anak Kepada Orang Tua yang dikutip dari Buku Liberating The Soul (Volume 1). mudah-mudahan berfaedah. Bismillahir Rohmanir Rohim Sebagai orang beriman, sebagai Muslim, kita telah diperintahkan untuk mengerjakan sesuatu yang terbaik bagi setiap orang. Bagi muslim, kita diperintahkan untuk memberikan yang terbaik terutama kepada orang tua kita sendiri terlebih dahulu sebelum kepada orang lain. Apapun yang dianggap terbaik untuk mereka, kalian harus melihatnya melalui pemahaman ini. Buatlah sebanyak mungkin kasih sayang yang dapat kalian lakukan untuk menghormati orang tua kalian, sesuai dengan keinginan mereka, atau yang orang tua kalian harapkan dari diri kalian, seperti rasa hormat kepada orang tua. Ini adalah hal yang terpenting. Dan sebagai tambahan kalian juga dapat merawat mereka, memenuhi segala keinginan dan pengeluaran mereka. Berikan sebanyak yang kalian mampu, berikan. Ini ak

Inspirasi Hati

Pengetahuan datang dengan dua cara. Salah satunya adalah dengan mendengarkan dari orang lain dan menggunakannya untuk mengarahkan dirinya pada jalannya. Tetapi pengetahuan Awliya berasal dari hati, dan ini lebih kuat untuk mendorong para murid untuk mencapai sasarannya. Dengan kata lain, jika perintah datang dari luar (dari orang lain), maka ego tidak peduli dan tidak suka untuk menjalankannya, tapi ketika perintah itu datang dari bisikan didalam hati kita sendiri, maka ia memiliki efek yang lebih kuat. Ego tidak suka untuk diperintah, tetapi jika berasal dari dalam hatinya sendiri, maka engkau melihatnya sebagai sesuatu yang berharga. Kalian dapat mendengarkan pelajaran begitu banyak dari orang lain, tetapi sebenarnya anda sedang menunggu perintah yang datang dari dalam hatimu sendiri. Benar bahwa Bimbingan Ilahi datang dengan cara kedua yaitu melalui Inspirasi yang dikirimkan kedalam hati pendengarnya yaitu inspirasi yang dikirimkan Awliya Allah. Para Awliya bisa berbi