Corporate Presentation

Humanika Inc.

Senin, 08 Agustus 2011

SENI PERANG, MENANG TANPA PERANG

Tulisan ini terinspirasi dari kata – kata Sun Tzu, ahli strategi perang dari China, dia mengungkapkan “Seni berperang adalah menang tanpa berperang.”

Ketika saya masih menjadi mahasiswa di Jogjakarta, ada seorang mantan anggota DPRD Jogja menyatakan, “Seni tertinggi dalam pergaulan di masyarakat adalah komunikasi. Adu kekuatan fisik sejati adalah mengalahkan, tanpa orang tersebut merasa kalah,” tambahnya. Beliau mencontohkan, untuk mengalahkan seorang prajurit berbadan kekar yang memiliki banyak teman, cukup dengan berkomunikasi dengan komandannya yang berpangkat kapten, maka Insya Allah prajurit tersebut akan tunduk dan patuh. Baru seorang kapten saja sang prajurit tangguh sudah bisa ditaklukkan, apalagi jika tempat kita berkomunikasi adalah dengan seorang jendral. Maka milikilah kemampuan seorang jendral buat menundukkan ribuan prajurit. Artinya, punyailah kemampuan seorang pemimpin, maka pengikut yang berapapun banyaknya akan mengikut, tunduk dan patuh pada kita.

LIMA UNSUR DALAM TUBUH MANUSIA

Mitra sejati, dalam kehidupan kita bermasyarakat, persoalan kejengkelan sederhana, ketidaksenangan pada seseorang atau sebuah komunitas yang akhirnya berujung pada sebuah dendam, merupakan indikasi manusia yang tidak stabil. Secara psikologis, ada unsur – unsur di tubuhnya yang mengalami kerusakan, untuk itu perlu diperbaiki.

Unsur tersebut antara lain :

  1. Unsur fisik

Manusia diciptakan dari segenggam tanah, dalam perspektif Sunnatullah tanah ini merupakan bentuk lain dari bumi. Di bumi yang maha luas ini bertentangan dengan unsur langit yang tinggi. Jika di bumi, karena merasa diri rendah, sifat yang paling kelihatan adalah rasa malas. Malas berbuat sesuatu, malas untuk mengejar cita – cita, malas berusaha, malas ber’ibadah dan segala macam bentuk rasa malas yang timbul dari fisik atau tubuh. Cara melawan rasa malas ini dengan menggerakkan hati, dikarenakan hati adalah raja, maka ketika hati sudah bergerak, maka rasa malas yang ditimbulkan oleh fisik tubuh menjadi hilang. Bergeraklah dengan hati yang bersih, hilangkanlah kemalasan dalam diri.

2. Unsur psikis

Agar kehidupan di bumi menjadi semarak, dibutuhkan air yang mengalir, yang menghidupi bumi. Bahkan masalah air ini menjadi isyu utama di beberapa negeri. Ketersediaan air menjadi mutlak pada sebuah masyarakat. Dengan memiliki sumber mata air, bisa timbul sebuah peradaban. Seperti sejarah pendirian ka’bah, yang nantinya melahirkan pendekar – pendekar peradaban dalam era Makkah dan Madinah. Bahkan ekspedisi manusia ke planet – planet lain di luar bumi, bertujuan mencari air untuk kelangsungan hidup dari generasi ke generasi. Sehingga fenomena air menjadi isyu global.

Pada tubuh manusia, yang 70% terdiri dari air (baca : darah), akan bergolak menjadi kacau jika kondisi psikisnya tidak stabil. Ini diekspresikan dalam bentuk marah. Lihatlah orang yang sedang marah, selain napasnya yang tidak teratur, darah di tubuhnya menjadi tidak beraturan dan tidak lancar, sehingga mudah sekali dipengaruhi. Orang yang sedang marah, mudah sekali disusupi syetan, untuk menanggulanginya dengan menyalurkannya pada tempat yang benar atau diam. Seperti di Jepang, ada namanya destroyer room, ruangan perusak. Di dalam ruangan ini, orang yang lagi marah, disediakan meja, kursi dan alat – alat yang sengaja buat dihancurkan sebagai pelampiasan rasa marahnya. Jika kondisi ini kita alami, sebaiknya mengistirahatkan fisik. Bahkan benar sekali apa yang ucapkan Rasulullah Muhammad SAW, jika kita lagi marah, berwudhulah dengan air, lalu shalatlah. Jika air ketemu dengan air, akan kembali ke asalnya. Sebuah air sungai yang bergejolak, ketika sampai di lautan lepas, menjadi tenang, berkumpul pada teman – temannya. Bahkan laut yang ganas sekalipun, akan takluk di bumi, yang ini bisa kita analogikan akan tubuh fisik kita yang melakukan gerakan shalat. Jika masih marah juga, tidurlah, berarti unsur air dan unsur bumi dalam tubuh kita menjadi diam.

3. Unsur emosi

Dalam bahasa Quran, emosi ini bermakna nafsu. Di bumi yang mengandung unsur tanah dan air, sehingga kita sebut tanah air, bisa diperjuangkan jika memiliki pemicu. Pemicu ini disimbolkan dengan api. Api memiliki sifat pembakar, baik sebagai cahaya (baca : matahari) atau api sebagai semangat. Karena tugasnya menyemangati, kedua unsur yaitu tanah dan air, maka nafsu ini perlu dikendalikan pada tingkatan yang wajar. Seseorang harulah memiliki ambisi, dengan memiliki ambisi, menjadi strum pemicu orang berusaha lebih giat lagi. Dalam batasan wajar, ambisi menjadi positif, tetapi jika over dosis, ambisi menjadi ambisius, sehingga orang yang terlalu semangat akan menyerang balik dirinya sendiri. Seperti Iblis laknatullah, karena terlalu berambisi menjadi makhluq paling mulia, maka menjadi sombong ketika ada makhluq lain yang menyaingi eksistensinya (baca : Nabi Adam AS, dari tanah), sehingga bertindak menurutkan nafsu, hingga dikeluarkan dari syurga.

Orang yang terlalu bersemangat, biasanya menunjukkan rasa takut, takut kalau – kalau tidak bisa mencapai ambisi tersebut. Sementara cara meredam rasa takut dengan mengembalikan ke unsur psikis yang terdiri dari air. Sebagaimana hawa nafsu yang bisa dikekang dengan shaum. Ketika nafsu, dihukum dengan siksaan panasnya api neraka, yang terjadi adalah semakin menjadi – jadi ambisinya, pun di siksa dengan dinginya api neraka, tertawa tawa oleh rasa geli, tetapi ketika disiksa dengan rasa lapar dan haus, maka ambisi yang terlalu dan merendahkan orang lain menjadi ciut dan mengemis – ngemis minta ampun. Ketika rasa marah yang berakibat rasa takut ada pada diri kita, jalan keluar terbaiknnya dengan bershaum, menahan diri agar kita menjadi orang – orang yang bertaqwa.

4. Unsur perubahan

Tidak ada yang statis di dunia ini, semuanya berubah menjadi dinamis kecuali perubahan. Dengan kata lain, tidak ada kepastian di dunia ini, kecuali kepastian akan perubahan itu sendiri. Ibarat angin yang terus berpindah – pindah, maka perubahan akan terus mengalami bentuk.

Hari ini kita berdiri di puncak kehidupan, kemungkinan esok bisa jadi kita terduduk pada serendah – rendah kehidupan. Angin perubahan akan bisa menjadi jinak, ketika di iringi oleh api semangat positif dalam diri manusia.

Di dalam tubuh manusia, terdapat dua hormon yang bekerja, satu bernama endorphine, yang satu lagi bernama adrenaline. Hormon endorphine akan bekerja, ketika kita mengalami titik kenikmatan. Orang – orang yang bertipe ini, baru bergerak dan muncul kreativitasnya ketika di beri inspeksi/visualisasi kenikmatan. Jika bekerja sebagai seorang profesional, maka tawaran gaji yang tinggi, kedudukan yang meningkat menjadi obsesi dirinya. Begitupun dengan visualisasi akhirat, maka tipe ini harus diasosiasikan dengan visualisasi dimensi syurgawi.

Jika bertipe adrenaline, kreatifitas dan pergerakannya terjadi ketika diberi tantangan dan kesukaran. Semakin menantang dan sukar sebuah masalah, semakin menarik dan kreatif hidupnya. Jika bekerja sebagai seorang pebisnis, tipe ini akan menaklukkan tantangan yang dihadapinya dengan tetap tersenyum serta menikmati di tiap kondisi dan keadaan terpahit sekalipun. Visualisasi akhiratnya adalah diasosiasikan dengan visualisasi dimensi nerakawi, yang menyakitkan. Semakin sakit penderitaan, maka semakin nikmatlah hidupnya.

Orang – orang yang memiliki dimensi kreatifitas ini terkadang hanya sampai pada tingkatan simpati. Dimana tangga menuju puncak simpati, pertama antipati, kedua simpati, ketiga empati, dan puncaknya adalah telepati. Antipati adalah sebuah keadaan yang berlawanan dengan apa yang kita pikir dan rasakan (no think and not fell as you not think and you not feel), sementara simpati kebalikan dari antipati, berpikir seperti apa yang dia pikirkan, dan merasakan seperti apa yang dia rasakan (think as you think, fell as you feel). Sedangkan empati adalah suatu kondisi aksi dari berfikir dan merasakan (think as you think, fell as you feel, and act you want them to act). Terakhir adalah telepati, sebelum dia berfikir dan merasakan, kita lakukan aksi kongkrit (before them think & fell, you act now).

5. Unsur produktivitas

Manusia agar bisa survive di dunia, haruslah memiliki keturunan sebagai pewaris dari estafeta kepemimpinannya. Tanpa adanya keturunan, berarti bumi ini akan punah, karena tidak ada lagi yang menghidupinya. Karena memiliki keturunan merupakan bagian dari produktivitas dan reproduktivitas seorang manusia hidup, maka ketika di beri napas kehidupan, haruslah mempunyai nilai – nilai keberartian atau kesignifikan hidup untuk ber’ibadah kepada Allah SWT dalam bentuk memperdalam ilmu yang dimiliki sebagai bekal akhirat. Dengan memiliki ilmu, maka otomatis produktivitas akan terjadi, ketika produktivitas terjadi maka pencapaian – pencapaian hakiki sebagai makhluq mulia akan terjadi. Bukan terjebak pada sanjungan semu, tetapi pada sanjungan abadi dari sang maha abadi, Allah SWT. Ketika produktivitas ini dipahamai sebagai kemuliaan semu, maka tunggulah saat kehancuran, ketika kita di sanjung di bumi karena ada maksud terselubung bukan sanjungan tulus, karena kita memang pantas mendapatkannya, maka kemuliaan akan menghampiri kita.

Lawanlah setiap sanjungan dengan senyum ketulusan, berikan energi yang berlebih di diri kita buat kemanfaatan buat orang lain.

Mitra sejati, ketika kita diharuskan berperang, dalam bentuk fisik, lawan terbesar dari diri kita bukan orang lain yang berada diluar diri kita, tetapi rasa malas yang menumpuk pada diri kita. Ketika berperang dalam bentuk psikis, lawan terbesarnya adalah rasa amarah yang sewaktu – waktu bisa muncul pada saat yang tidak kita kehendaki. Sedangkan berperang dalam bentuk emosi, melawan rasa takut yang berlebihan, Buat berperang dengan unsur perubahan, lawanlah rasa antipati dengan telepati. Terakhir unsur produktivitas, lawanlah sanjungan dengan senyum ketulusan.

Setelah berperang dengan kelima sifat tadi, memenangkan peperangan tanpa peperangan adalah ciri seorang pejuang sejati.

Wallahu’alam bissawab

Hari ‘Soul’ Putra (Soul Motivator, CEO Sa’i Center & Praktisi P3K)

Tidak ada komentar:

Humanika Outbound Training - HOT

Contact Me