Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2012

Membentangkan Optimisme Bangsa

Para pemuda yang berkumpul di Jakarta tanggal 28 Oktober 1928 memiliki kesadaran bersama tentang masa depan. Mereka menyadari transformasi masyarakat tradisional menuju masyarakat modern mulai terjadi di Nusantara. Pendidikan sebagai kendaraan menuju kemajuan mulai menyebar di bangsa ini. Para pemuda sadar, mereka masih tersekat kebhinekaan. Tantangan mereka adalah meruntuhkan sekat-sekat pembeda. Kebhinekaan disatukan dalam basis yang lebih luas, basis kebangsaan. Ada kesadaran baru, suku-suku bangsa di Nusantara ini akan meraih masa depan gemilang jika bisa mereka menemukan rumus sederhana untuk semua. Persatuan dan kebersamaan adalah rumusan itu. Keputusan untuk menggunakan bahasa bersama, yaitu bahasa Indonesia, adalah keputusan jenius. Hingga hari ini, banyak urusan bangsa menjadi sederhana karena bahasa yang diterima seluruh rakyat. Dunia internasional sering terpukau menyaksikan pluralitas bangsa penghuni sekitar 5.000 pulau yang merentang sepanjang khatulistiwa, y

Perjalanan Menuju Puncak

Semangat Pagi Sobat Profesional... Tidak ada yang gratis dalam hidup ini. Semua harus diperjuangkan. Ongkos setiap perjuangan tergantung kondisi yang anda inginkan. Untuk mencapai puncak gunung harus melalui empat kondisi jalan. Apabila anda tidak bisa melalui empat kondisi jalan ini maka jangan harap anda akan sampai dipuncak gunung dengan kedamaian dan rasa syukur. Jika dikatakan perjuangan, bukan hal atau sesuatu yang ”tidak memiliki tujuan”..., namun seuah PERJUANGAN pasti memiliki TUJUAN yang jelas. Sehingga dengan sadar dalam pencapaian tujuannya tersebut. Hal ini akan mendatangkan KEKUATAN dalam perjuangan. Seperti yang pernah dilakukan oleh para pendahulu-pendahulu kita. Seperti pembangunan BOROBUDUR yang memakan waktu hampir 1 abad atau sebanyak kurang lebih berganti 20 raja dalam kurun waktu tersebut. Bukan KEAJAIBAN namun sebuah KOMITMEN dalam mewujudkan candi tersebut. Walaupun kata KOMITMEN yang saat ini digunakan adalah merupakan bahasa serapan dari baha

Legenda Itu Bernama Pak Sumarkidjo

Semangat pagi SOBAT 1ndONEsia....entah kenapa beberapa hari ini sedang berpikir mengenai “sosok” kepahlawanan. Ketika saya ada waktu membuka tulisan sahabat saya, Pak Fietra terkait dengan minimnya pengetahuan mengenai sosok kepahlawanan di negeri sendiri. Kita sering melihat Pahlawan negara-negara lain, kita bangga dan asyik melihatnya...perlahan-lahan kita mulai meninggalkan pahlawan-pahlawan kita sendiri. Tulisan Pak Fietra begitu bagusnya menggugah rasa malu, karena saya sendiri telah jauh untuk mengenal sosok pahlawan – pahlawan negeri ini. Tiba-tiba saya melihat angka 1 pada facebook saya, kemudian dari membaca tulisan Pak Fietra, saya beralih melihat facebook saya, ada message dari mana? Ternyata dari group sekolah saya mengabarkan bahwa Pak Sumarkidjo – merupakan salah seorang dosen, pengajar dan GURU saya - telah meninggal. Sungguh sebuah moment yang tepat, dikala saya sedang bergulat dengan “kepahlawanan”, beliau adalah salah seorang legenda dan juga seorang pahla